Senin, 23 Juni 2014

analisis LQ



BAB I
PENDAHULUAN

1.1  LATAR BELAKANG
Kota Kendari terletak di jazirah Tenggara Pulau Sulawesi. Wilayah daratannya sebagian besar terdapat di daratan, mengelilingi Teluk Kendari dan terdapat satu pulau, yaitu Pulau Bungkutoko, secara geografis terletak di bagian selatan garis khatulistiwa, berada di antara 3º54’30” - 4º3’11” Lintang Selatan dan 122º23’ - 122º39’ Bujur Timur.
Wilayah Kota Kendari berbatasan dengan:Sebelah Utara: Kecamatan Soropia, Kabupaten Konawe;Sebelah Timur: Laut Kendari;Sebelah Selatan: Kecamatan Moramo dan Kecamatan Konda, Kabupaten Konawe Selatan;Sebelah Barat: Kecamatan Ranomeeto, Kabupaten Konawe Selatan dan Kecamatan Sampara, Kabupaten Konawe.
       peternakan di kota kendari terus mengalami perkembangan pada masing-masing kecamatan. kemampuan penduduk untuk berternak pada tiap kecamatan merupakan salah satu kegiatan perekonomian untuk memenuhi kebutuhanya.Dalam perkembagan peternakan pemerintah telah menggupayakan berbagai usaha untuk kebebasan berternak guna menciptakan kesejahteraan masyarakat.  namun kemampuan pemerintah atau pun para peternak dalam meningkatkan peternakan  masih belum membawakan hasil perkembangan yang maksimal untuk kecamatan-kecamatan di Kota Kendari.
 Pada makala ini kami membahas tentang keunggulan jumlah peternakan yang ada di Kota Kendari dengan melihat ada dan ketidak adaan peternakan di setiap kecamatan yang tersebar pada masing-masing kecamatan yang di analisis dengan menggunakan metode LQ.

1.2  TUJUAN

Untuk menentukan unggulan  jumlah peternakan di Kota Kendari dengan membandingkan ketersediaan jumlah peternakan pada masing masing kecamatn menggunakan data LQ.
BAB II
METODE ANALISIS
Analisis  LQ digunakn untuk menentukan dengan membandingkan antara kegiatan yang mempunyai  potensial antara yang satu dengan yang lainya. Adapun tahap untuk menentukan hasil LQ adalah sebagai berikut :
1.      Membagi nilai data satu jenis peternakan  pada satu kecamatan dengan jumlah nilai seluruh peternakan suatu kecamatan (A). dan membagi jumlah data satu jenis peternakan pada tingkat kota madya dibagi dengan data seluruh jumlah jenis peternakan pada tingkat kota madya
2.      Membagi hasil  bagi data A dan data B untuk menentukan nilai LQ
3.      Wilayah yang mempunyai potensi unggulan yang tinggi dengan nilai yang lebih besar dari satu.
4.      Nilai yang menumbukan yang bukan basis pengembangan potensi komunitas unggulan lebih kecil dari satu.
5.      Nilai yang mempunyai potensi unggulan hanya untuk wilaya sendiri dan sekitar dengan skala tertuntu dengan nilai LQ yang sama dengan satu.














BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 HASIL ANALISIS MENGGUNAKAN METODA DATA
        Hasil analisis menggunakan metode LQ disajikan pada tabel.1 dan 2.
Tabel 1. Hasil analisis jenis ternak besar disetiap kecamatan kota Kendari tahun 2012
No

Kecamatan
Jenis-jenis ternak

jumlah

Sapi
Kerbau
Kuda
1.       
Mandonga
178
-
-
178
2.       
Baruga
500
4
-
504
3.       
Puuwatu
585
-
-
585
4.       
Kadia
10
1
-
11
5.       
Wua-wua
164
-
-
164
6.       
Poasia
302
4
-
306
7.       
Abeli
377
12
-
389
8.       
Kambu
87
3
-
90
9.       
Kendari
-
-
-
-
10.   
Kendari barat
-
-
-
-

Jumlah
2.203
24
0
2.227

Tabel 2. LQ populasi ternak disetiap kecamatan kota Kendari tahun 2012
No

Kecamatan
LQ


Sapi
Kerbau
Kuda
1.       
Mandonga
1,02
0,00
0,00
2.       
Baruga
1,00
0,73
0,00
3.       
Puuwatu
1,02
0,00
0,00
4.       
Kadia
0,91
9,00
0,00
5.       
Wua-wua
1,02
0,00
0,00
6.       
Poasia
1,00
1,00
0,00
7.       
Abeli
0,98
3,00
0,00
8.       
Kambu
0,98
3,00
0,00
9.       
Kendari
0,00
0,00
0,00
10.   
Kendari barat
0,00
0,00
0,00
Keterangan :
Ø  Untuk nilai LQ yang berwarna biru merupakan potensi unggulan hanya untuk wilaya sendiri dan sekitar dengan skala tertuntu dengan nilai LQ yang sama dengan satu (LQ = 1).
Ø  Untuk nilai LQ yang berwarna merah merupakan wilayah yang mempunyai potensi unggulan yang tinggi dengan nilai lebih besar dari satu (LQ> 1).
Ø  Untuk nilai LQ yang berwarna hijau merupakan wilayah yang bukan basis pengembangan potensi unggulan dengan nilai lebih kecil dari satu (LQ< 1).
.
3.2 PEMBAHASAN
Dikota Kendari dari sepuluh kecamatan terdapat beberapa jenis peternakan diantaranya sapi, kerbau, dan kuda.  untuk memenuhi kebutuhan perekonomian masyarakat. Untuk wilayah yang mempunyai potensi unggulan ternak sapi tertinggi terletek pada kecamatan puuwatu yaitu sebesar 585 dengan jumlah (LQ sapi =1,02,LQ kerbau =0,00,dan LQ kuda =0,00). kecamatan Baruga adalah kecamatan yang memiliki ternak unggulan sapi dan kerbau terbanyak setelah puuwatu dengan jumlah total 504 (dengan jumlah LQ sapi =1,00, LQ kerbau =0,73  dan LQ kuda =0,00) ,di kecamatan abeli merupakan kacamatan yang memiliki ternak kerbau terbanyak diantara sepuluh kecamatan yang ada dikota Kendari dengan jumlah total ternak unggulan sebesar 389 (dengan jumlah LQ sapi =0,98,LQ kerbau =3,00,dan LQ kuda =0,00). selain itu, kecamtan abeli adalah kecamatan kambu memiliki jenis ternak unggulan ketiga terbesar. Kacamatan yang mamiliki ternak unggulan keempat terbesar adalah kecamatan poasia  dengan hewan ternak berupa sapi dan kerbau dengan jumlah totalnya 306 (dengan jumlah LQ sapi =1,00,LQ kerbau =1,00,dan LQ kuda =0,00).
Untuk kecamatan Mandonga jumlah total ternak unggulanya sebesar 178 (dengan jumlah LQ sapi =1,02,LQ kerbau =0,00,dan LQ kuda =0,00) dengan jenis ternak unggulan berupa sapi.  Adapun kecamatan Wua-wua memiliki jumlah ternak unggulan sebesar 164 (dengan jumlah LQ sapi =1,02,LQ kerbau =0,00,dan LQ kuda =0,00) Dan kecamatan yang memiliki jumlah ternak terendah terdapat dikecamatan Kambu sebesar 90(dengan jumlah LQ sapi =0,98,LQ kerbau =3,00,dan LQ kuda =0,00) dan Kadia sebesar 11(dengan jumlah LQ sapi =0,91,LQ kerbau =9,00,dan LQ kuda =0,00) dengan jenis ternak berupa sapi dan kerbau. Kecamatan Kendari dan Kendari Barat adalah kecamatan yang tidak miliki jenis ternak atau LQ = 0,00.


















BAB IV  
PENUTUP

4.1 KESIMPULAN
        Berdasarkan data yang dianalisis dengan menggunakan metode LQ  dan pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa pada daerah Kota kendari potensi unggulan peternakan yang paling dominan adalah potensi unggulan jenis ternak yang bukan basis pengembangan peternakan (LQ<1) kemudian untuk potensi unggulan yang cukup dominan pada wilayah ini  yaitu potensi unggulan jenis ternak yang tinggi (LQ>1) serta potensi  unggulan peternakan yang kurang dominan yaitu potensi unggulan ternak hanya untuk wilayah sendiri  dan sekitar dengan skala tertentu (LQ=1).

4.2 SARAN
Diharapkan kepada Pemerintah beserta para peternak  untuk lebih meningkatkan kerja sama dalam mengembangkan peternakan sehingga dapat menghasilkan  potensi unggulan jenis ternak yang tinggi di kota kendari.











Tidak ada komentar:

Posting Komentar