BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Kota Kendari terletak di jazirah Tenggara Pulau Sulawesi. Wilayah daratannya sebagian besar
terdapat di daratan, mengelilingi Teluk Kendari dan terdapat satu pulau, yaitu
Pulau Bungkutoko, secara geografis terletak di bagian selatan garis khatulistiwa, berada di antara 3º54’30” -
4º3’11” Lintang Selatan dan 122º23’ - 122º39’ Bujur Timur.
Wilayah Kota Kendari berbatasan dengan:Sebelah Utara: Kecamatan Soropia, Kabupaten Konawe;Sebelah Timur: Laut Kendari;Sebelah Selatan: Kecamatan Moramo dan Kecamatan Konda, Kabupaten Konawe Selatan;Sebelah Barat: Kecamatan Ranomeeto, Kabupaten Konawe Selatan dan Kecamatan Sampara, Kabupaten Konawe.
peternakan di kota kendari terus mengalami
perkembangan pada masing-masing kecamatan. kemampuan penduduk untuk berternak
pada tiap kecamatan merupakan salah satu kegiatan perekonomian untuk memenuhi
kebutuhanya.Dalam perkembagan peternakan pemerintah telah menggupayakan
berbagai usaha untuk kebebasan berternak guna menciptakan kesejahteraan
masyarakat. namun kemampuan pemerintah
atau pun para peternak dalam meningkatkan peternakan masih belum membawakan hasil perkembangan
yang maksimal untuk kecamatan-kecamatan di Kota Kendari.
Pada makala ini kami membahas tentang
keunggulan jumlah peternakan yang ada di Kota Kendari dengan melihat ada dan
ketidak adaan peternakan di setiap kecamatan yang tersebar pada masing-masing
kecamatan yang di analisis dengan menggunakan metode LQ.
1.2 TUJUAN
Untuk menentukan
unggulan jumlah peternakan di Kota
Kendari dengan membandingkan ketersediaan jumlah peternakan pada masing masing
kecamatn menggunakan data LQ.
BAB II
METODE ANALISIS
Analisis
LQ digunakn untuk menentukan dengan membandingkan antara kegiatan yang
mempunyai potensial antara yang satu
dengan yang lainya. Adapun tahap untuk menentukan hasil LQ adalah sebagai
berikut :
1. Membagi
nilai data satu jenis peternakan pada
satu kecamatan dengan jumlah nilai seluruh peternakan suatu kecamatan (A). dan
membagi jumlah data satu jenis peternakan pada tingkat kota madya dibagi dengan
data seluruh jumlah jenis peternakan pada tingkat kota madya
2. Membagi
hasil bagi data A dan data B untuk
menentukan nilai LQ
3. Wilayah
yang mempunyai potensi unggulan yang tinggi dengan nilai yang lebih besar dari
satu.
4. Nilai
yang menumbukan yang bukan basis pengembangan potensi komunitas unggulan lebih
kecil dari satu.
5. Nilai
yang mempunyai potensi unggulan hanya untuk wilaya sendiri dan sekitar dengan
skala tertuntu dengan nilai LQ yang sama dengan satu.
BAB
III
HASIL
DAN PEMBAHASAN
3.1
HASIL ANALISIS MENGGUNAKAN METODA DATA
Hasil analisis menggunakan metode LQ disajikan
pada tabel.1 dan 2.
Tabel 1. Hasil analisis jenis
ternak besar disetiap kecamatan kota Kendari tahun 2012
|
No
|
Kecamatan
|
Jenis-jenis ternak
|
jumlah
|
|
||
|
Sapi
|
Kerbau
|
Kuda
|
||||
|
1.
|
Mandonga
|
178
|
-
|
-
|
178
|
|
|
2.
|
Baruga
|
500
|
4
|
-
|
504
|
|
|
3.
|
Puuwatu
|
585
|
-
|
-
|
585
|
|
|
4.
|
Kadia
|
10
|
1
|
-
|
11
|
|
|
5.
|
Wua-wua
|
164
|
-
|
-
|
164
|
|
|
6.
|
Poasia
|
302
|
4
|
-
|
306
|
|
|
7.
|
Abeli
|
377
|
12
|
-
|
389
|
|
|
8.
|
Kambu
|
87
|
3
|
-
|
90
|
|
|
9.
|
Kendari
|
-
|
-
|
-
|
-
|
|
|
10.
|
Kendari barat
|
-
|
-
|
-
|
-
|
|
|
|
Jumlah
|
2.203
|
24
|
0
|
2.227
|
|
Tabel 2. LQ populasi ternak disetiap
kecamatan kota Kendari tahun 2012
|
No
|
Kecamatan
|
LQ
|
|
||
|
Sapi
|
Kerbau
|
Kuda
|
|||
|
1.
|
Mandonga
|
1,02
|
0,00
|
0,00
|
|
|
2.
|
Baruga
|
1,00
|
0,73
|
0,00
|
|
|
3.
|
Puuwatu
|
1,02
|
0,00
|
0,00
|
|
|
4.
|
Kadia
|
0,91
|
9,00
|
0,00
|
|
|
5.
|
Wua-wua
|
1,02
|
0,00
|
0,00
|
|
|
6.
|
Poasia
|
1,00
|
1,00
|
0,00
|
|
|
7.
|
Abeli
|
0,98
|
3,00
|
0,00
|
|
|
8.
|
Kambu
|
0,98
|
3,00
|
0,00
|
|
|
9.
|
Kendari
|
0,00
|
0,00
|
0,00
|
|
|
10.
|
Kendari barat
|
0,00
|
0,00
|
0,00
|
|
Keterangan
:
Ø Untuk
nilai LQ yang berwarna
biru merupakan
potensi unggulan hanya untuk wilaya sendiri dan sekitar dengan skala tertuntu
dengan nilai LQ yang sama dengan satu (LQ = 1).
Ø Untuk
nilai LQ yang berwarna merah merupakan
wilayah yang mempunyai potensi unggulan yang tinggi dengan nilai lebih besar
dari satu (LQ> 1).
Ø Untuk
nilai LQ yang berwarna hijau merupakan
wilayah yang bukan basis pengembangan potensi unggulan dengan nilai lebih kecil
dari satu (LQ< 1).
.
3.2
PEMBAHASAN
Dikota
Kendari
dari sepuluh
kecamatan terdapat
beberapa jenis peternakan diantaranya sapi, kerbau, dan kuda.
untuk memenuhi kebutuhan perekonomian masyarakat. Untuk wilayah yang
mempunyai potensi unggulan ternak
sapi
tertinggi terletek pada kecamatan puuwatu
yaitu sebesar 585 dengan jumlah (LQ sapi =1,02,LQ kerbau =0,00,dan
LQ kuda =0,00). kecamatan Baruga adalah kecamatan yang memiliki ternak unggulan sapi dan
kerbau terbanyak setelah puuwatu dengan jumlah total 504
(dengan jumlah LQ sapi =1,00, LQ
kerbau =0,73 dan LQ kuda =0,00) ,di kecamatan abeli merupakan kacamatan yang memiliki ternak kerbau
terbanyak diantara sepuluh kecamatan yang ada dikota Kendari dengan jumlah
total ternak unggulan sebesar 389 (dengan jumlah LQ sapi =0,98,LQ
kerbau =3,00,dan LQ kuda =0,00). selain itu, kecamtan abeli adalah kecamatan kambu memiliki jenis ternak unggulan ketiga terbesar. Kacamatan yang
mamiliki ternak unggulan keempat terbesar adalah kecamatan poasia dengan
hewan ternak berupa sapi dan kerbau dengan jumlah totalnya 306
(dengan jumlah LQ sapi =1,00,LQ kerbau =1,00,dan
LQ kuda =0,00).
Untuk kecamatan Mandonga jumlah total ternak
unggulanya sebesar 178
(dengan jumlah LQ sapi =1,02,LQ kerbau =0,00,dan LQ kuda =0,00) dengan jenis ternak unggulan berupa sapi. Adapun
kecamatan Wua-wua memiliki jumlah ternak unggulan sebesar 164
(dengan jumlah LQ sapi =1,02,LQ kerbau =0,00,dan LQ kuda =0,00) Dan
kecamatan yang memiliki jumlah ternak terendah terdapat dikecamatan Kambu sebesar 90(dengan
jumlah LQ sapi =0,98,LQ kerbau =3,00,dan LQ
kuda =0,00) dan Kadia
sebesar 11(dengan jumlah LQ
sapi =0,91,LQ kerbau =9,00,dan LQ kuda =0,00) dengan jenis ternak berupa sapi dan kerbau. Kecamatan
Kendari dan Kendari Barat adalah kecamatan yang tidak miliki jenis ternak
atau LQ = 0,00.
BAB IV
PENUTUP
4.1 KESIMPULAN
Berdasarkan data yang
dianalisis dengan menggunakan metode LQ
dan pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa pada daerah Kota kendari potensi
unggulan peternakan yang paling dominan adalah potensi unggulan jenis ternak
yang bukan basis pengembangan peternakan (LQ<1) kemudian untuk potensi
unggulan yang cukup dominan pada wilayah ini
yaitu potensi unggulan jenis ternak yang tinggi (LQ>1) serta
potensi unggulan peternakan yang kurang
dominan yaitu potensi unggulan ternak hanya untuk wilayah sendiri dan sekitar dengan skala tertentu (LQ=1).
4.2
SARAN
Diharapkan
kepada Pemerintah beserta para peternak
untuk lebih meningkatkan kerja sama dalam mengembangkan peternakan
sehingga dapat menghasilkan potensi
unggulan jenis ternak yang tinggi di kota kendari.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar